Pernah merasakan dunia runtuh dalam sekejap? Aku mengalaminya lima tahun lalu ketika menemukan pesan mesra di telepon suamiku—yang ternyata bukan untukku. Rasanya seperti ditusuk dari belakang oleh orang paling kupercaya. Butuh waktu berbulan-bulan untuk bangkit dari tempat tidur tanpa air mata. Yang menyelamatkanku justru komunitas online untuk penyintas perselingkuhan. Di sana, seorang ibu rumah tangga bercerita bagaimana dia memutar haluan dengan membuka usaha katering kecil-kecilan setelah diceraikan. Kini, aku pun punya toko kue online yang omzetnya tiga kali gaji mantan suamiku. Pelajaran terbesar? Rasa sakit itu seperti benih—bisa tumbuh jadi racun atau pupuk, tergantung bagaimana kita merawatnya.
Dulu, aku selalu mengira pengkhianatan adalah akhir segalanya. Tapi ternyata, itu justru jadi pintu menuju versi diriku yang lebih kuat. Aku mulai therapy, belajar filsafat stoikisme, dan bahkan mendaki gunung sendirian sebagai bentuk 'ritual pemulihan'. Yang lucu, mantan suamiku malah kerap minta maaf via DM setelah melihat pencapaianku di media sosial. Tapi sekarang, aku malah berterima kasih pada perselingkuhan itu—tanpa pengalaman pahit itu, aku tak akan menemukan passion dalam hidup dan belajar mencintai diri sendiri lebih dulu sebelum orang lain.