Di mataku, kalimat itu berdering seperti bel pintu yang tak pernah direspons—bukan karena orang lain jahat, melainkan karena tokoh utama sedang menunjukkan titik lembut di dalam dirinya.
Sering kali, pernyataan 'aku tak kau anggap ada cerita' adalah cara penulis membuat pembaca menoleh: ini bukan sekadar keluhan, melainkan peta emosi tentang bagaimana karakter merasa tak terlihat. Kadang itu muncul ketika hubungan antar tokoh timpang—misalnya ketika satu pihak selalu jadi pusat perhatian sementara yang lain jadi bayang-bayang. Aku merasakan ini kuat di beberapa manga dan novel: sang protagonis memakai kalimat itu untuk menguji siapa yang benar-benar memperhatikannya.
Di level naratif, ungkapan ini juga bisa jadi alat untuk menyentuh simpati pembaca. Aku pernah membaca adegan serupa di mana frasa itu memicu perubahan kecil yang akhirnya berujung besar; dari situ aku belajar kalau rasa tak dianggap sering dipakai sebagai bahan bakar konflik dan perkembangan karakter. Jadi, bagi saya itu lebih dari sekadar keluhan—itu adalah pemantik cerita, dan kadang cermin buat pembaca sendiri.