PUTRI BUNIAN YANG TERNODA
Sepasang mata Imus tak henti-hentinya mengikuti ke mana arah tangan Nek Kamsiah, sambil berulang kali menelan salivanya.
“Aku diselamatkan oleh seseorang setelah sekarat dipukuli suami kau, lalu aku dibawa ke kampungnya,” ujarnya tenang, tak sedikit pun menampakkan dendam. “Senang sekali hidup di kampung orang-orang tu. Indak ada penjajahan di sana. Semua masyarakat hidup tentram dan damai, jauh dari permusuhan dan pecah belah. Dan yang menakjubkan, mereka punya banyak emas dan berlian yang bebas di ambil siapa pun. Makanan lezat tersedia kapan pun, bebas di makan siapa saja.”
“Benarkah ada kampung serupa tu?” Mata Imus menyipit, menyelidiki kebenaran ucapan ibunya Nurlaila itu. “Inyiak inda
Hot Chapters