Ada novel yang baru saja kubaca berjudul 'The Light Between Oceans', diangkat jadi film juga. Tokoh utamanya, Isabel, hidup di pulau terpencil saat suaminya jadi penjaga mercusuar. Awalnya dia melawan kesepian dengan menulis surat panjang dan merawat kebun, tapi perlahan itu tak cukup. Yang bikin ceritanya dalam adalah bagaimana dia mulai 'mendengar' suara ombak sebagai teman bicara, bahkan membangun ritual harian seperti ngobrol dengan burung laut. Kubaca sambil ngebayangin betapa kreatifnya manusia bisa beradaptasi saat terisolasi.
Di bagian akhir novel, setelah bertahun-tahun, ternyata Isabel malah menemukan kedamaian dalam kesendirian itu. Justru ketika suaminya pulang, dia perlu waktu untuk menyesuaikan diri kembali. Ini bikin aku mikir: kadang yang kita kira sebagai 'obat' kesepian (kehadiran orang) belum tentu solusi sesungguhnya. Mungkin jawabannya ada di bagaimana kita berteman dengan diri sendiri.