Gerald Sang Penakluk
“Ah, beraniin aja, Ger. Toh sama aja kan? Kamu udah terkenal kok pijatannya paling enak, malah kata yang lain, lebih mantap dibanding pijatan almarhum kakekmu.”
“Hehehe, Ibu terlalu berlebihan.” Aku sengaja memotong kalimatnya merasa tak nyaman bila harus membicarkan urusan pijat memijat.
Aku belum terlalu berani mengatakan jika diriku memang tukang pijat handal. Selain karena ilmu tersebut kudapatkan dari sesuatu yang agak sedikit kurang masuk akal, juga belum punya keberanian kalau harus memijat wanita. Maklum, aku termasuk lelaki yang mudah on jika memegang sesuatu yang menggairahkan.