Membuat kumpulan cerpen singkat yang menarik itu seperti merangkai perhiasan—setiap bagian harus berkilau sendiri tapi tetap harmonis dalam satu kesatuan. Aku selalu mulai dengan tema yang fleksibel, sesuatu yang bisa dieksplorasi dari banyak sudut, misalnya 'kehilangan' atau 'kebetulan kecil yang mengubah hidup'. Dengan tema sebagai payung, setiap cerita bisa memiliki nuansa berbeda tanpa terasa terpaksa disatukan.
Karakter adalah nyawa cerita pendek. Karena ruang terbatas, aku memilih langsung menunjukkan kepribadian mereka melalui dialog atau tindakan spesifik, bukan deskripsi panjang. Di 'Layang-layang Putus', tokoh utama ku gambarkan hanya melalui caranya memungut tali layangan yang putus sambil menggigit bibir—tanpa perlu menjelaskan bahwa dia adalah anak yang gigih. Setting juga kutepatkan: pasar malam, halte bus kosong, atau dapur jam 3 pagi. Lokasi spesifik memberi atmosfer instan.
Yang paling kusukai adalah twist akhir yang tidak terlalu dramatis tapi meninggalkan rasa. Bukan tentang kejutan, melainkan pencerahan kecil. Seperti cerita 'Tusuk Gigi' yang berakhir dengan adegan dua orang asing saling tersenyum di warung mie—remah-remah koneksi manusia yang sering terlewat dalam keseharian. Kumpulan cerpen terbaik menurutku adalah yang membuat pembaca merasa seperti menemukan serpihan kisah mereka sendiri di antara halamannya.