Pagi itu, aroma kopi hangat mengisi ruang makan kecil kami. Aku melihat Maya dari balik cangkir, matanya sembap seperti habis menangis semalaman. 'Masih tentang kemarin?' tanyaku pelan. Dia mengangguk, jarinya memutar-mutar sendok tanpa tujuan. Pertengkaran sepele tentang tagihan listrik yang meledak jadi perang dingin. Aku ingat bagaimana suaranya pecah saat berteriak, 'Kamu selalu lupa, selalu!'. Padahal aku cuma terlambat bayar tiga hari.
Malamnya, kami duduk di teras belakang. Jangkrik berbunyi, tapi udara antara kami beku. Tiba-tiba Maya menyentuh tanganku, 'Aku capek, Sayang.' Bukan tentang tagihan lagi, tapi tentang bagaimana kami saling melemparkan kesalahan seperti bola panas. Aku memandang langit yang penuh bintang, teringat malam pertama pindah rumah dulu. Kami tertawa gegap gempita saat listrik padam karena lupa isi token. Sekarang, listrik menyala terang, tapi ada sesuatu yang padam antara kami.