Ada sesuatu yang ajaib tentang bagaimana karakter 'Prince Charming' selalu muncul dalam dongeng. Dia bukan sekadar sosok penyelamat, melainkan representasi fantasi tentang kesempurnaan yang sulit ditemui di dunia nyata. Rambut pirang, mata biru, pedang bersinar, dan tentu saja—hati yang setia. Tapi pernahkah kamu memperhatikan bahwa dia jarang memiliki kepribadian yang menonjol? Justru itu yang membuatnya menarik: dia adalah kanvas kosong untuk kita proyeksikan impian kita.
Di 'Cinderella' atau 'Snow White', keberadaannya lebih sebagai simbol harapan daripada karakter berdaging. Mungkin itu sebabnya adaptasi modern seperti 'Shrek' dengan sengaja mengolok-olok stereotip ini. Prince Charming versi DreamWorks adalah anti-tesis dari dongeng klasik, yang justru membuatnya lebih manusiawi. Lucu ya, bagaimana kita bisa mencintai sesuatu sekaligus menertawakannya?