AKU BUKAN SEORANG PELACUR
Aku membuang napasku bersama punggung yang kuputar, mengakhiri sorotku ke jalanan ramai di seberang sana dengan melangkahkan kakiku untuk masuk ke dalam kamar, mengambil jaket dan dompetku, kemudian berjalan ke luar, menyusuri semua pintu kamar sampai beberapa menit selanjutnya telah mampu kulihat kota Jakarta yang tidak berubah.
Mataku tertuju ke sebuah toko kue yang lantas manyambut badanku untuk segera berhadir di dalamnya. Sedikit sapaan dari seorang perempuan bercelemek pink yang berdiri di balik etalase. Aku menganggukkan kepalaku, dan menunjuk ke sepotong vanilla cake yang ditata dengan baik. Dia tersenyum, dan memberiku itu. Aku langsung menyambutnya dengan seuntai kata terima kasih