Dream first class
Dan kalau coba diingat lagi, perutku jadi bergolak saking mualnya.
“Kalau Bu Guru, dulu cita-citanya jadi guru, ya? mangkanya sekarang jadi Ibu Guru.”
Aku ingin terbahak namun miris pun datang bersamaan. Cita-cita, ya? itu hampir setiap detik mampir dikepalaku dan mengacaukan kedamaiannya. Cita-citaku tidak bisa dihitung dengan jari. Bahkan aku sendiri sudah lupa apa sebenarnya cita-citaku sebagai anak kecil dulu. Beranjak dewasa, aku lebih senang menyebutnya dengan sebutan mimpi, karena cita-cita itu berhubungan dengan segala keindahan yang kita bayangkan senyaman saat tengah tertidur. Aku pernah mendengar dari seseorang kalau dunia itu sebenarnya ada dua. Dimana yang pertama, ia terletak d
Hot Chapters