Antara Cinta dan Luka
Udara lembab, bau kopi tubruk dan kemenyan menyelimuti terminal, bercampur aroma hujan yang baru turun.
Naya turun dari business class, mata merah karena nangis semalaman, ponselnya masih menampilkan pesan Maya: “Aku di Panti Asuhan Anak Harapan, Ubud. Datanglah.” Gaun hitam sederhana basah di ujungnya, rambut diikat cepol, tangan gemetar memegang tas kecil.
Rian di sampingnya, jaket kulit hitam basah hujan, tangan kanannya memegang koper, tangan kiri mencengkeram tangan Naya erat. “Kita temukan dia, Nay. Aku janji.”