BANDIT GUNUNG BERBUDI LUHUR
bisik seorang pria berseragam pejabat rendah di meja sebelah.
Temannya tertawa keras sembari menenggak tuaknya. "Wajar saja, dia sekarang sedang tajir melintir. Sejak dipromosikan, kantongnya tidak pernah kering!"
Aku tersenyum tipis. Di sudut lain, kulihat beberapa orang berkumpul di sekitar seorang pria yang sedang membacakan sajak. Di zaman ini, kepandaian bersastra bukan sekadar hobi, tapi tiket emas menuju kelas atas. Orang yang pandai menulis puisi atau sajak bisa dengan mudah mengambil hati para Raja dan Kaisar, lalu pulang dengan sekantong emas.