Terjebak Cinta Bos Sadis
Tapi ada bagian kecil di dadaku yang terasa kosong—bukan karena kurang, tapi karena tidak bisa dibagi.
Di kantor, belokan baru muncul.
Seorang kolega lokal, Daniel, mulai sering bekerja bersamaku. Profesional, cerdas, dan ramah. Kami cocok secara ritme kerja. Ia menghargai batasan, tidak terlalu personal, namun kehadirannya nyaman. Pada suatu sore, setelah rapat panjang, ia mengajakku minum kopi.
“Sebagai tim,” katanya. “Tidak ada agenda lain.”
Hot Chapters