Gairah Liar Perselingkuhan
Senyum yang selalu berhasil membangkitkan imajinasi liar dalam benakku, imajinasi yang seharusnya tidak kupikirkan.
"Sudah, jangan terlalu tegang," katanya lagi, sambil mengelus bahuku sekali lagi, namun kali ini dengan gerakan yang lebih lambat dan lebih terasa. Jari-jarinya berhenti di lekukan bahuku, memberikan tekanan ringan yang terasa seperti sengatan listrik yang menjalar ke kulitku. "Atau…" bisiknya, suaranya semakin rendah dan serak, "Mau ke apartemenku lagi? Biar nggak tegang?"