Ada sesuatu yang sangat memikat tentang bagaimana 'DD' mengakhiri ceritanya. Komik ini, yang awalnya terasa seperti petualangan absurd penuh lelucon gelap, ternyata punya lapisan filosofis yang dalam di balik klimaksnya. Tokoh utama, setelah melalui serangkaian peristiwa yang mengacaukan realitasnya, akhirnya menyadari bahwa seluruh dunia 'DD' adalah simulasi buatan antagonis. Tapi alih-alih menghancurkan sistem, ia justru memilih untuk hidup damai di dalamnya, menerima bahwa kebahagiaan bisa ditemukan bahkan dalam ketidaksempurnaan. Adegan terakhir menunjukkan ia minum kopi dengan musuh bebuyutannya di kafe virtual, sementara layar komputer di dunia nyata perlahan mati.
Yang bikin ending ini istimewa adalah bagaimana komik ini bermain dengan konsep determinisme versus kebebasan memilih. Selama ini protagonis berjuang melawan 'takdir' yang diatur sistem, tapi endingnya justru subversif—kebebasan sejati ternyata ada dalam penerimaan. Nuansa meta-nya juga keren; kita sebagai pembaca jadi bertanya-tanya apakah kita juga terjebak dalam 'DD' versi kita sendiri. Senyuman ambigu tokoh utama di panel terakhir masih sering jadi bahan debat hangat di forum-forum penggemar!