Resep Rahasia Sang Pecundang
“Anggap saja kami… departemen kontrol kualitas. Proyek ‘Citarasa Nusantara’ telah mengumpulkan data yang cukup. Anda, Tuan Raditya, telah berfungsi melampaui ekspektasi. Sebagai rasa terima kasih, proses pencabutan akan kami buat senyaman mungkin.”
Di barisan depan, Luna bangkit berdiri, matanya menyipit. Ia tidak bisa mendengar percakapan itu, tetapi ia bisa melihat ekspresi Radit yang membeku dan postur pria asing yang terlalu dekat, terlalu intim. Di sebelahnya, Adrian juga merasakan ada yang tidak beres. Gerakan Paspampres di sekitar panggung terlihat kaku, tatapan mereka kosong, seolah pikiran mereka sedang dialihkan ke tempat lain.
Hot Chapters