Ibu, Jangan Tinggalkan Kami
"Aku tidak menyuruhmu buru-buru."
"Maaf." Aku memasukkan ponsel, jepitan rambut ke dalam tas. Juga dompet dan buku kecil yang diulurkan Pak Atma. "Sekali lagi terima kasih, Pak," ucapku.
"Tunggu, Sinar."
Untung sudah tidak hujan, aku yang hendak menutup pintu, agak membungkukkan badan. "Iya, Pak?"
"Ada yang tertinggal. Foto ya ini ...." Pak Atma menyalakan lampu kabin mobil.