Rahasia di Balik Akad Nikahku
Kutinggalkan kamar Gendis lalu kembali ke kamar sendiri dengan berbagai rasa yang berbaur menjadi satu, cemas, marah, kecewa, sekaligus bingung.
Aku terhenyak di bibir ranjang, menyugar rambut ke belakang. Penat. Dia pergi tanpa pesan, seperti itukah caranya menghargai sebuah pernikahan? Kuhela napas, mengucap Istighfar. Lalu netraku menangkap tumpukan kertas di atas nakas. Aku pun meraih dan memeriksa setiap lembarnya. Ya, formulir yang kuberikan sebelum pergi sudah terisi rapi. Aku meremasnya kuat-kuat. "Kita lihat, Gendis, apa yang bisa aku lakukan setelah kita bertemu nanti!"
Bab Populer