Air Mata di Antara Bunga
Aku membeli tiket pesawat, lalu menutup pintu rumah tanpa menoleh, meninggalkan semuanya tanpa rasa rindu.
Malam itu aku duduk di bandara.
Ponselku tetap sepi, tak ada pesan, tak ada panggilan dari Rangga.
Sebaliknya, justru pesan dari Sarah yang masuk silih berganti.
Dalam foto-foto yang dikirimnya, tampak Rangga yang lelah, matanya nyaris terpejam, tapi tetap membantu mengawasi infus Sarah.
[Vanya, lihatlah Rangga. Kasihan, dia capek banget. Kamu pasti bahagia, bisa menikah dengan pria yang penuh perhatian sepertinya.]