DENDAM
Amira meluapkan segala emosinya kepadaku, ia mengira Alia adalah Alena, makanya ia begitu murka kepadaku.
"Wanita itu bukan Alena, dia Alia!" kataku.
Amira tertawa sinis. "Kamu bilang aku penuh drama, lihat diri kamu, jelas aku yang seharusnya pantas bertanya. Drama macam apa ini? Hah?" bentaknya.
"Mir, aku berani sumpah! Dia Alia, bukan Alena."
"Huh, bulshit ..., memang kamu lelaki pendusta." Amira terlihat begitu emosi, bahkan ia nampak beberapa kali membuang napas kasar.