Samaran Terakhir
Di tempat ini, segala sesuatu bisa muncul dan menghilang dalam satu detak emosi.
Seekor rusa bermata tinta melintas dan lenyap begitu disentuh cahaya. Sebuah piano terapung muncul dari tanah, lalu meleleh menjadi kalimat-kalimat tanpa subjek. Bahkan langit sendiri berubah kadang-kadang menjadi halaman kosong, kadang menjadi sorotan cahaya panggung.
“Ini... terlalu cepat,” bisik Lena.
Ezra, yang sejak awal percaya bahwa hanya Penulis Sejati yang bisa memperbaiki keadaan, mulai ragu. “Atau... mungkin dunia ini tidak butuh penulis lagi.”