Samaran Terakhir
[Tanpa Bab Berikutnya]
Tidak ada prolog.
Tidak ada “lima tahun kemudian.”
Hanya saat ini.
Sebuah sore yang hangat.
Langit oranye seperti kertas yang sempat terbakar tapi tak pernah habis.
Angin membawa aroma pohon pinus dan roti yang baru dipanggang.
Di bawah langit itu, mereka duduk.
Lena bersandar di bahu Kai. Di tangannya, bukan pena, bukan senjata, bukan fragmen struktur lama—tapi setangkai bunga liar yang ia petik sendiri.