ARINDA
Setelahnya, Zayn membalikkan tubuhnya dan berlalu dari sana.
Arinda menelan ludahnya susah payah mendengar itu. Dia hanya diam saja, menatap dengan nanar punggung tegap Zayn yang kemudian hilang di balik pintu. Setelah kepergian lelaki itu, Arinda memejamkan matanya lelah. Tak ada lagi air mata yang menyusul keluar, barangkali karena kabar tentang ibunya yang membaik. Tapi, Arinda tetap dapat merasakan sakit itu di dadanya saat Zayn mengingatkannya tentang siapa dirinya di sini. Walau begitu, perasaan lega mengetahui jika ibunya semakin membaik jauh lebih membuat Arinda senang.
***
Hot Chapters