Simpanan Ayah Sahabatku
Di depan rumah berdiri Bibi Nimas, di sampingnya ada Saskia dan di belakang mereka ada dua orang lelaki bertubuh besar, mengenakan pakaian lusuh tapi tampak kuat dan menyeramkan.
Gadis menelan ludah. Jantungnya langsung berdetak kencang. “Bibi Nimas…” suaranya nyaris bergetar. “Mas Mahen belum pulang, Bibi. Tolong kasih waktu sedikit lagi, ya?”
Bibi Nimas menaikkan sebelah alisnya, menatap tajam seperti elang yang sedang menilai mangsa.