Membuat cerpen bergambar itu seperti merajut mimpi dengan tangan sendiri—aku selalu mulai dari emosi yang ingin kutangkap. Misalnya, suatu sore hujan, tiba-tiba terbayang adegan dua karakter berbagi payung di halte bus. Aku langsung corat-coret sketsa kasar di buku catatan, lalu menulis dialog spontan yang terasa alami. Kuncinya adalah membiarkan gambar dan teks saling mengisi; terkadang ekspresi karakter dalam gambar sudah bercerita lebih banyak daripada paragraf deskripsi.
Setelah konsep dasar terbentuk, aku memilih medium yang sesuai. Kalau ingin nuansa tradisional, aku pakai tinta dan cat air di kertas textured. Untuk gaya digital, aplikasi seperti Procreate atau Clip Studio Paint sangat membantu. Aku sering eksperimen dengan layout panel ala manga atau ilustrasi full-page dengan teks mengalir di sekitarnya. Penting untuk tidak terlalu perfeksionis di draft pertama—justru ketidaksempurnaan tangan sering memberi jiwa pada karya.
Proses favoritku adalah saat memberi 'easter egg' visual. Misalnya, menambahkan latar belakang poster fiktif atau detail kostum yang mengisyaratkan latar belakang tokoh. Cerpen bergambar singkat yang paling berkesan justru yang meninggalkan ruang bagi pembaca untuk menghubungkan titik-titik sendiri, seperti aroma kopi di meja karakter yang tak pernah disebutkan dalam teks tapi tergambar jelas di panel kedua.