MENGEJAR CINTA TUKANG KAYU TAMPAN
“Jadi, Liam, wujudkan semua itu dalam karyamu. Buatlah agar ketika Syekh Hamdan melihat karyamu, dia melihat simbol yang membuatnya merasa itu adalah bagian dari ekspresi dirinya.”
Liam tersenyum, butir-butir ide itu mulai menetas di otaknya. Liam tak pernah merasakan adrenalin sebesar ini. Meja kerjanya yang penuh sketsa, coretan, motif-motif Islam klasik, garis-garis lengkung arabesque, semua berpadu dalam kekacauan kreatif. Cahaya sore merambat dari jendela besar ruang kerjanya, membentuk bayangan halus ukiran yang belum selesai.