DIKIRA MISKIN SAAT REUNI
Kusimpan cangkir keramik itu bersama tatatkannya ke atas meja rotan bundar yang ada di depan Pak Faqih.
Di teras rumah memang hanya ada empat kursi rotan dengan meja bundarnya. Warnanya sudah sedikit pudar karena termakan usia, tetapi kata Ibu, gak perlu dulu beli baru. Kami belum butuh, jadi pakai yang ada saja dulu.
“Yu, kuenya dipotongin dulu, ya!” Ibu menyodorkan satu plastik keresek hitam.
Eh, kue? Niat banget nih Bapak-bapak ke sini. Duh, jangan-jangan dia memang mau ngambil hati Ibu.
Bab Populer