BUKAN MENANTU KAYA
“Innalillahi ...“
Aku kaget bukan main. Lalu menggeleng pelan. Bukan, semua ini bukan karena doa satireku tapi qodarullah, kehendak Allah.
“Dek, Mas antar mereka dulu ke rumah sakit ya,“ ucapnya. Aku mengangguk, “hati-hati, Mas.“
**
Kubawa Zaidan ke halaman belakang untuk dijemur. Di sana ada Rika yang menangis di pelukan Hadi. Hadi mengusap punggungnya sambil mengerling nakal padaku. Aku begidik ngeri lalu buru-buru masuk ke rumah. Dasar buaya darat, masih berani menggoda perempuan lain padahal istrinya ada di pelukan.
Menjelang senja, Mas Hasan baru pulang. Wajahnya tampak lelah, tubuhnya pun bau kecut.
Capítulos Populares