Selir Yang Terlupakan
Bab 44
Keesokan paginya, suasana di paviliun yang selama empat tahun begitu sunyi kini berubah total menjadi pusat aktivitas yang padat namun teratur. Udara pagi memang masih terasa sejuk, membawa aroma bunga melati yang tumbuh di pekarangan, namun denyut kehidupan dan persiapan yang kencang sudah terasa menyelimuti setiap sudut tempat itu. Kesunyian yang menjadi ciri khas kediamanku selama ini lenyap, digantikan oleh hiruk-pikuk yang sudah tersusun rapi layaknya sebuah rencana yang telah dipersiapkan jauh hari sebelumnya. Tak ada yang bergerak tergesa-gesa tanpa arah; setiap langkah, setiap perintah, seolah sudah tertanam dalam ingatan mereka.