KETIKA ART-KU DIPANGGIL MAMA OLEH ANAKKU
"Mati rasa, Nyai. Saya mau cepat-cepat keluar dari sini. Entah apa maksud Allah menciptakan saya. Kenapa saya nasih dikasih hidup. Saya hidup, malah jadi sumber petaka untuk orang lain."
Bu Sartini diam saja. Dia menarik napasnya dalam-dalam. Andai bukan karena percaya pada rukun iman, takdir baik dan buruk, percaya hari pembalasan, ia pasti tidak akan sungkan melenyapkan wanita muda di depannya itu. Namun Bu Sartini mengejar keutamaan memaafkan dan juga pahala usaha untuk membersihkan hatinya.
(Iman yang paling utama adalah sabar dan pemaaf atau lapang dada. HR Bukhari)