Antara Cinta dan Luka
“Lo nggak sendirian, Nay. Dengar mereka. Mereka nyanyi buat lo.”
Naya menatap lautan ponsel. Cahaya putih dari ribuan layar seperti bintang jatuh. Dia bangkit perlahan, ambil napas dalam.
“Jakarta…” suaranya serak, tapi mikrofon masih mati. Dia teriak, “Kalian luar biasa!”
Tiba-tiba—listrik nyala kembali.
Lampu biru menyala perlahan, seperti fajar di tengah malam. Generator cadangan hidup. Band masuk—drummer, bassist, keyboardis. Nada di Tengah Hujan full version.