Samaran Terakhir
Dan ada yang berdiri, melangkah ke arahnya.
Seorang wanita dengan mata penuh tanda baca.
“Kami membacamu,” katanya. “Kami bukan Tuhan, bukan juga pencipta. Kami adalah para pemakna. Dan itu memberimu kekuatan lebih dari yang kau kira.”
Adrian menelan ludah. “Jadi… kalian tahu semua yang kulakukan?”
“Bahkan saat kau berpikir kau sendiri,” jawab seorang pria dengan kulit berlapis kertas lusuh, “kami ada. Saat pena tak menulis, imajinasi kami tetap membawamu hidup.”