Hati Yang Terpilih
sambung Bapak lagi dengan nada menekan.
“Nazwa belum bisa memilih, Pak,” gumam Nazwa.
“Lalu apa gunanya kamu ke rumah Ambu kemarin? Kamu sudah berjanji pada Bapak dan Ibu saat pulang nanti sudah bisa memberikan pilihan!” cecar Bapak.
“Maaf, Pak. Tapi …,”
“Sudah, kalau begitu biar Bapak yang memutuskan untuk kamu. Suka tidak suka, kamu harus terima keputusan Bapak!” seru Bapak dengan tegas.