Hajatan di Rumah Ibu
Namun, setidaknya, untuk saat ini, aku masih bisa menikmati kebersamaan dengan anak-anakku, satu-satunya kebahagiaan yang kumiliki.
Ketika aroma pisang kukus mulai menguar, anak-anak bersorak girang. Mereka tak sabar ingin mencicipinya. Aku tersenyum tipis, berusaha menahan air mata yang hampir jatuh. Bagaimana pun sulitnya hidup ini, aku harus tetap kuat demi mereka.
“Bu, pisangnya sudah matang! Ayo, kita makan di belakang rumah, seperti yang Ibu bilang tadi,” seru Ami sambil menarik tanganku.
Bab Populer