Bara Dendam Sagara
Lalu sebuah suara berat namun menenangkan, yang terasa akrab sekaligus asing, memecah keheningan.
“Akhirnya kau menunjukkan tanda-tanda, Nak.”
Sagara mengerang pelan, tenggorokannya kering dan perih. Ia mencoba menggerakkan jari-jarinya, sensasi kesemutan menjalar, namun kekuatannya tak lebih dari sehelai benang rapuh. Ingatan-ingatan mulai menerobos masuk, bagaikan fragmen kaca pecah yang berhamburan dalam benaknya.
Bab Populer