Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku
Wajahku dipoles make-up natural namun tajam, menonjolkan mata yang tidak lagi memancarkan keraguan.
Aku bukan lagi Alea si anak magang. Aku bukan lagi Alea si simpanan yang ketakutan.
Aku adalah Alea Diwangsa.
"Selamat pagi," sapaku. Suaraku tenang, tidak keras, namun bergema jelas di ruangan yang sunyi itu.
"Selamat pagi, Bu Alea," jawab mereka serempak, suara mereka bergetar sedikit karena gugup.