Pesona Upik Abu
Pikirannya, yang siang tadi begitu kokoh dan dingin layaknya Aletha Natawijaya, kini mulai goyah, menyusut kembali menjadi Sri yang gamang dan tak punya pilihan.
Di atas sofa, Pak Surya memandangi langit-langit rumah dengan mata bengkak yang berkaca-kaca. Suara erangan kecil sesekali lolos dari bibirnya yang pecah saat ia mencoba mengubah posisi tidur.
"Sri …," panggil Pak Surya, suaranya parau, tersendat oleh rasa sakit fisik dan jepitan rasa bersalah yang terlambat. "Bapak minta maaf, Sri. Ini semua gara-gara Bapak. Kalau saja Bapak nggak khilaf ... kalau saja Bapak nggak sentuh judi itu lagi, Ibu nggak bakal dibawa sama mereka."
Hot Chapters