KEMBALINYA SANG RATU
lanjut Mika, “selalu dipandang sebagai eksotisme atau cerita sedih akibat perubahan iklim. Tapi Madrasah Langit memberiku bahasa baru—bahwa kami bukan korban, tapi penjaga kebijaksanaan. Kami tahu kapan laut memberi, dan kapan kami harus berhenti. Itu ilmu. Itu madrasah.”
Muncul suara baru, kali ini lebih berat, namun terdengar lembut seperti ombak.
“Saya Hiroto,” katanya dalam logat Jepang yang bercampur bahasa Hawaii, “lahir di atol kecil di tengah Pasifik. Kami tinggal di antara laut dan langit, dan kini, banyak dari pulau kami hilang oleh naiknya permukaan laut. Tapi sebelum tanah kami tenggelam, kami ingin warisan kami mengapung dan menyeberangi dunia.”