Pesugihan Kandang Bubrah
Semuanya telah dimulai dan dia harus menanggung akibatnya.
Langkahnya berat saat Arif duduk di meja makan. Ibunya, yang tampak semakin kurus dan pucat, menyodorkan sepiring nasi. “Kenapa kamu tak pernah tidur dengan nyenyak, Rif? Kau selalu gelisah. Jangan terlalu pikirkan itu,” kata ibunya, namun matanya penuh kecemasan.
Arif hanya terdiam, menatap piring di depannya tanpa berselera. “Aku hanya lelah, Bu. Lelah dengan semuanya.”