Desah Di Kamar Sebelah
“Kenapa diam, Mas? Kamu tak suka kupanggil sayang?”
“Oh, tidak, Mbak Tika! Aku senang saja. Hanya belum terbiasa,” kilahku seraya menahan dongkol yang makin mendesak dada.
“Mulai sekarang, harus dibiasakan, ya? Oke, Sayang. Kita akhiri dulu percakapan ini. I love you,” desahnya manja.
“I … l-love you too,” sahutku terbata dengan sensasi merinding yang menyiksa.