Pembantu Pemuas Nafsu Sang Majikan
Merindukan bagaimana Ethan selalu berlari ke arahnya setiap kali ia pulang, memeluk kakinya sambil tersenyum selebar mungkin.
Senyum lirih itu muncul begitu saja di bibir Ariana, tipis namun menyelinap ke dalam relung hatinya yang paling rapuh.
“Kenapa aku harus jatuh cinta pada duda yang tidak pernah ingin jatuh cinta lagi setelah dikhianati istrinya,” bisiknya pelan, seolah berbicara pada bayangan sendiri.
Sita, yang sedang membersihkan potongan buah di talenan, hanya mengangkat bahu dan menjawab dengan santai, “Sudah takdirmu.”