Ada satu momen dalam hidup di mana kita semua dihadapkan pada pilihan: melompat atau tetap di tempat. Aku ingat pertama kali mencoba audisi untuk peran teater meskipun takut gagal. Rasanya seperti berdiri di tepi tebing, tapi justru adrenalin itu yang akhirnya mendorongku. Kuncinya? Mulai dari hal kecil. Misalnya, jika takut presentasi, coba bicara di depan cermin dulu, lalu ke teman dekat. Perlahan, otak akan terbiasa dengan rasa tidak nyaman. Yang penting, ingat selalu: penyesalan karena tidak mencoba biasanya jauh lebih menyakitkan daripada kegagalan itu sendiri.
Salah satu buku favoritku, 'Feel the Fear and Do It Anyway', benar-benar mengubah caraku memandang risiko. Penulisnya bilang, ketakutan itu seperti bayangan—selalu lebih besar dari ancaman sebenarnya. Aku sering menerapkan 'rule of five': tanyakan pada diri sendiri, apa lima hal terburuk yang bisa terjadi? Biasanya, setelah ditulis, risikonya tidak semenakutkan itu. Justru dengan memvisualisasikan skenario terburuk, kita jadi punya rencana cadangan dan lebih percaya diri mengambil langkah.