Kesayangan Tuan Elian
Rinjani mencoba mengabaikannya, namun tangannya yang memegang pena mulai gemetar.
"Kamu tahu? Besok pagi ada rapat dengan vendor utama dari Jepang. Mereka itu perfeksionis. Satu saja kamu salah sebut angka, mereka bakal tarik investasi. Apa kamu sanggup? Atau mau aku gantikan saja besok pagi? Kamu bisa pulang, tidur, dan menangisi bayimu yang sudah tidak ada itu di rumah."
"Ibu Dian, mohon jaga bicara Anda," sela Maya dengan nada dingin dan tegas. "Bu Rinjani sedang berusaha, dan saya adalah saksi atas kerja kerasnya."