Bicara soal dojin bikin aku langsung terbayang meja-meja penuh fanzine dengan stiker tangan dan sampul yang penuh warna.
Dojin pada dasarnya adalah karya yang diproduksi sendiri oleh penggemar atau kelompok kecil: bisa berupa manga, novel, artbook, musik, atau bahkan game. Di Jepang istilah itu sering digaungkan sebagai 'doujin' atau 'doujinshi' untuk fanzine cetak, sementara karya perangkat lunak indie biasa disebut dojin soft. Yang menarik, dojin bukan sekadar produk — dia adalah wujud komunitas, tempat orang berkumpul, bereksperimen, dan saling memberi ide.
Sejarahnya panjang. Awal kata 'doujin' merujuk ke orang-orang yang punya minat sama, dan sejak era modern awal ada tradisi majalah kecil milik kelompok sastra. Tapi ledakan dojin modern baru terasa setelah lahirnya acara besar seperti 'Comiket' pada 1975 yang jadi titik kumpul para circle amatir. Lalu di era 90-an dan 2000-an muncul toko-toko spesifik seperti Toranoana dan Melonbooks, serta platform online seperti Pixiv dan BOOTH yang memudahkan distribusi. Dari zine sederhana hingga game indie besar—semua punya tempat di dunia dojin, dan itu yang bikin aku terus kembali ke meja penjual setiap kali ada event.