Suami Adikku Memuja Rahimku
Satu lengannya yang kokoh melingkar di pinggangku, sebuah belenggu hangat yang bahkan dalam tidur pun, tidak memberiku ruang untuk bernapas bebas.
Aku bergeser inci demi inci, melepaskan diri dengan gerakan yang nyaris tanpa suara. Begitu telapak kakiku menyentuh lantai yang dingin, realita menghantamku layaknya siraman air es yang mengejutkan saraf. Aku memungut kemeja hitam Shaka yang teronggok di lantai, menyembunyikan tubuhku yang menggigil di balik kain katun mahal itu, lalu melangkah menuju ruang tamu.