Kesempatan Kedua untuk Cinta
“Sikapnya sedingin rembulan yang redup, dingin, samar, dan tidak mampu kutebak. Ia penuh teka-teki, tetapi ia adalah perempuan yang pengerti. Senyumnya sehangat mentari, sepasang matanya bagai dua berlian yang tertimpa cahaya, bersinar dan indah—“
Sepia langsung menghela napas sambil menatap lembaran buku itu, ia menyadari bahwa makna kalimat itu memang terdengar berlebihan. Diksi-diksi yang indah dan ribuan kalimat kekaguman yang menjadi himpunan utuh. Kemudian Sepia refleks tersenyum, entah kenapa bibirnya bergerak sendiri setelah membaca tulisan itu.
Hot Chapters