SUAMIKU MATI DI TANGANKU
Harapan kembali kuat, jarak tempuh ke perkampungan yang ramai itu tidak terlalu jauh, ditambah, jalanan yang merupakan penurunan, tak sulit untuk berjalan sambil membopong tubuh Rinda.
Kira-kira 20 menitan kami berjalan. Perkampungan semakin dekat. Gapura melengkung menyambut kami. Desa Kayu Aro, aku familiar dengan nama desa ini. Desa di lereng pegunungan sebagai penghasil teh terbesar di provinsiku.
“Itu, itu ada rumah bidan desa,” tunjukku pada sebuah plank putih melintang dan terlihat jelas dari jalan.