DOSA TERINDAH
“Iya. Aku bahagia, aku bisa menjadi diriku sendiri saat bersamamu. Aku tak takut apa pun saat di dekatmu.”
Dia menarikku ke dalam pelukan. “Aku untuk kamu, kamu untuk aku. Tetap seperti ini, tetap di sampingku, meski masalah tak berhenti menghampiri.”
“Hmm.” Aku mengangguk, menghirup dalam dalam aroma maskulin yang menguar dari tubuhnya.
“Sudahi semua rasanya, sudahi semua inginnya. Bilang ke dia kamu milikku, kamu takdirku dan kamu bahagiaku.”