Ada satu judul yang hampir selalu muncul ketika orang menyebut Mochtar Lubis: 'Harimau! Harimau!'. Aku sampai bisa membayangkan betapa tegangnya suasana waktu pertama kali membaca itu—bukan karena aksi semata, melainkan karena penekanan pada konflik batin tokoh utamanya. Dalam novel itu, yang jadi pusat cerita bukan sekadar sosok heroik dengan nama besar, melainkan seorang manusia biasa yang bergulat dengan rasa bersalah, ketakutan, dan pilihan moral yang berat.
Kalau aku harus merangkum, inti dari tokoh utama di 'Harimau! Harimau!' adalah pergulatan psikologisnya: bagaimana trauma, kebohongan, dan tradisi menggerogoti keberanian dan kehendak bebas. Mochtar Lubis memang pandai menulis tokoh yang terasa sangat manusiawi—kadang munafik, kadang penakut, tapi selalu kompleks. Bukan tipe pahlawan sempurna; lebih tepat disebut protagonis yang rapuh dan realistis.
Di luar itu, Mochtar Lubis punya karya lain seperti 'Senja di Jakarta' yang menampilkan tokoh-tokoh dengan ambisi dan korupsi di tengah kota besar. Jadi kalau ditanya siapa tokoh utama dari buku terkenalnya, jawabannya agak bergantung pada buku mana—namun ciri khasnya sama: tokoh sentral selalu digambarkan dengan detail psikologis yang tajam, penuh kontradiksi, dan mudah bikin pembaca ikut terombang-ambing oleh perasaan mereka.