Pengantin Dewa
Jejak merah itu membentuk jalur baru-bukan sebagai tanda kepasrahan, tetapi sebagai kehidupan yang menantang kematian.
Di hadapannya, Batara Yama, Dewa Kematian, sang penguasa dunia kelam berdiri dengan tubuh menjulang dan mata sekeras batu obsidian, mata yang ‘tak pernah lepas dari Melati. Hari ini, dia akan mengikat takdir mereka. Tidak hanya sebagai suami-istri, tetapi sebagai dua jiwa yang saling membelenggu selamanya.
“Ucapkan sumpahmu,” bisik Yama, suaranya serak dan dalam, seperti bara yang menyala pelan di kegelapan.
Sikat na Kabanata